"sisi lain seorang pengajar"

Orang Bodoh vs Orang Pintar

Orang Bodoh vs Orang Pintar


Berikut ini ada sedikit renungan dari Om Mario Teguh yg sedikit menggelitik pikiran saya,


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja.
Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
 
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka dia suruh orang pintar untuk membuatnya.
 
Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
 
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
 
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
 
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.


So, pertanyaan buat kita semua:
1. Mending jadi orang pinter atau orang bodoh?
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?
3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh?
4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh?
Berartikah hidupmu ?

Berartikah hidupmu ?

Berapa umur anda saat ini?
20 tahun, 30tahun, 40tahun atau bahkan 5 tahun…
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita membantu kepada sesama.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa .. Kehidupan adalah … dll.

Ajarkan Si Kecil Ucapkan 'Maaf'

Jakarta - Mengakui kesalahan dan mengucapkan 'maaf' kadang tidak mudah bagi siapapun. Membiasakan diri untuk bertanggung jawab serta mengakui kesalahan yang telah diperbuat perlu dilakukan sejak dini. Termasuk juga mengucapkan 'maaf'.


Mengajarkan si kecil meminta maaf ada langkah tersendiri. Tips berikut akan membantu Anda.

Lakukan Sejak Dini
Ajarkan meminta maaf mulai dari si kecil bisa diajak komunikasi. Setiap ia melempar mainannya, atau menumpahkan makanannya, ajarkan ia kata 'maaf'. Tentu saja hal itu tak akan segera diikuti oleh anak Anda, namun biasakanlah dia mendengar kata itu, dan mempelajari pola kapan kata 'maaf' harus ia ucapkan.

Repetisi
Untuk mengajarkan si kecil memang butuh waktu. Jadi jangan pernah merasa bosan. Selalu ulang kata-kata maaf tiap ia melakukan kesalahan. Biarkan ia mencerna dan mengerti arti dari kata-kata tersebut.

Beri contoh
Ini adalah proses yang paling penting. Sebagai orang tua, Anda tak akan pernah luput dari kesalahan. Jika Anda melakukan kesalahan pada si kecil, segeralah ucapkan maaf. Hal itu akan memberi contoh yang baik baginya. Ingat, Anda adalah panutannya, maka berikanlah contoh yang baik baginya.

Ingatkan lagi
Lupa adalah satu hal yang manusiawi. Anak yang baru mempelajari kata maaf tentunya sesekali akan lupa melakukannya. Jangan langsung memarahi si kecil karena kelalaiannya. Peringatkan ia dengan lembut, sehingga hal itu akan ia ingat selanjutnya.

 
Sumber: www.wolipop.com
Tuhan Berbicara

Tuhan Berbicara

Seorang Manusia berbisik, “Tuhan, bicaralah padaku.”

Dan burung kutilang pun bernyanyi.
Tapi, manusia itu tidak mendengarkannya.
Maka, Manusia itu berteriak, “Tuhan, bicaralah padaku !”

Dan guntur dan petir pun mengguruh.
Tapi, Manusia itu tidak mendengarkannya.
MAnusia itu melihat sekelilingnya dan berkata,
“Tuhan, biarkan aku melihat Engkau.”

Dan bintang pun bersinar terang.
Tapi, Manusia itu tidak melihatnya.
Dan, Manusia berteriak lagi, “Tuhan, tunjukkan aku keajaiban!” Mu”
Back To Top